Senin, 27 Februari 2017

Muhammadiyah: Ucapan Ahok Tentang Al Maidah Jelas Ada Unsur Penistaan, Penodaan Terhadap Ulama dan Al Maidah itu Sendiri

MuslimCyber.id - Ketua PP Muhammadiyah ini, salah satu akademisi yang menentang pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menga­takan, kalau memilih pemimpin hanya berdasarkan agama itu melanggar konstitusi. Ahok mengatakan hal itu di acara serah terima jabatan (sertijab) Gubernur DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Lantas apa ala­san Yunahar Ilyas menentang pernyataan Ahok, berikut penu­turannya;

Dalam konteks Al Maidah 51 sebenarnya pemimpin yang seperti apa sih?
Pemimpin yang bersifat struk­tural. Pemimpin struktural, ada­lah pemimpin yang dipilih. Misalnya presiden, wakil presi­den, termasuk gubernur. Tapi menteri tidak dipilih, sehingga tidak pernah ada memperdebat­kan menteri nonmuslim. Begitu juga pekerjaan-pekerjaan bersi­fat profesional, seperti direktur, direktur utama.

Terkait pidato Ahok yang menyinggung Al - Maidah 51 yang kini menjadi perkara, bagaimana tanggapan anda?
Ungkapan Ahok, terutama pada kalimat dibohongi pakai Al Maidah macam-macam itu, menurut saya ada unsur peni­staan, penodaan terhadap ulama, atau terhadap Al Maidah itu sendiri.

Tapi dalam pidatonya, Ahok kan tidak menyebut kata-kata ulama?
Memang. Tapi, kata "orang" yang disebut Ahok dalampidatonya itu bermakna luas. Pidato Ahok tersebut, bisa bermakna siapa saja yang mengutip surat Al - Maidah ayat 51 telah berbohong. Itu yang dituduh berbohong bisa saja politisi, mubalig, guru, bisa ulama. Dalam konteks ini yang punya otoritas mewarisi nabi menyampaikan risalah Islam adalah ulama. Maka, ucapan itu telah menistakan ulama.

Bentuk penistaan terhadap ayatnya di mana?
Ucapan 'jangan mau dibo­hongi pakai Surat Al - Maidah' yang disampaikan terdakwa, itu artinya, Al Maidah ayat 51 dikatakan sebagai alat untuk berbohong. Artinya tidak mem­bolehkan umat Islam memilih pemimpin yang beragama lain itu bohong.

Padahal, itu ayat dari kitab suci Al - Quran tidak bisa dika­takan sebagai alat untuk berbo­hong. Intinya di kata bohong itu yang paling berat. Karena dalam ilmu hadis, bohong itu adalah satu dosa besar yang menyebab­kan seluruh riwayat dia ditolak, sehingga kalau orang dikatakan bohon, dia tidak akan dipercaya lagi.

(rmol)

0 komentar:

Posting Komentar

Breaking News
Loading...
Quick Message
Press Esc to close
Copyright © 2013 Muslim Cyber All Right Reserved